![]() |
| Taman Bunga Bogor oleh journalistjourn.blogspot.com |
Mungkin banyak makhluk yang lebih hebat dariku, tetapi aku cukup sebagai diriku dengan apa yang aku lakukan.
Beberapa kali aku mendengar
orang ingin menjadi sepertiku. Katanya aku selalu di tempat. Katanya aku setia.
Katanya juga aku tak pernah berubah. Lantas aku berpikir, benarkah itu kabar
baik?
Pagi ini menjadi pagi yang
sama. Memandang para siswa dari ketinggian yang sama dan tempat yang sama. Aku suka
melihat para siswa datang di pagi hari, membawa buku dan membawa mimpi. Dosen-dosen
datang membawa ilmu yang siap dibagikan. Aku selalu kagum melihatnya. Pemandang
itu selalu membuatku bertanya-tanya pertanyaan yang aku sendiri pun tak mau
menyuarakannya. Aku selalu penasaran ,tetapi aku tak cukup berani dengan
lantang menanyakannya pada diriku sendiri. Hatiku selalu berat melihatnya,
tetapi tak cukup ringan bahkan hanya untuk berbisik.
Matahari
mulai menyinari siang. Aku, Pohon Mahoni, dan pohon-pohon lain di taman TGP
mulai mengeluhkan terik yang cukup menusuk.
“Siang ini terlalu terik. Aku tak
tahan,” ujar Pohon Pinus.
“Ya, ini cukup panas,” ujarku.
Tak lama setelah berkeluh
kesah, banyak mahasiswa yang tiba-tiba datang ke taman. Aku menebak pasti kelas
fotografi lagi. Benar saja, siswa-siswa mulai beraksi dengan kameranya.
Memotret alam dengan riang. Terik matahari kemudian membuat beberapa siswa tak
sanggup menahan panas dan memutuskan untuk berteduh di bawah pohon yang
rindang.
“Aku ingin menjadi fotografer hebat
kelak,” ujar salah satu siswa.
“Aku ingin menjadi penulis kelak,”
sahut siswa lainnya.
Perasaanku tiba-tiba terasa aneh
mendengar obrolan kedua siswa itu. Entah sedih atau marah. Akupun bingung, tapi
sungguh terasa aneh.
Terik
yang menusuk tiba-tiba berganti menjadi rintikan hujan. Para siswa berlarian
menuju gedung dan aku hanya diam, di sini. Hujan hari ini terasa seperti
pukulan bagiku. Mimpi? Satu kata yang membuatku sedih bercampur marah. Aku juga
ingin bermimpi. Aku ingin menjadi fotografer dan penulis, tetapi aku hanyalah
sebuah pohon.
“Mustahil,” sebutku sinis.
Basah hujan kini bercampur
dengan air mataku. Aku mulai menangis dan menangis. Pohon Pinus terlihat kaget
dan bingung.
“Hei, mengapa kau menangis?” tanyanya
resah.
“Entah. Aku ingin bermimpi,” raungku.
“Kau kenapa? Tenanglah!” ujarnya
cemas.
Aku tak memperdulikannya dan terus
menangis.
“Apa yang membuatmu menangis? Mimpi?
Kau bisa bermimpi!” teriak Pohon Pinus.
“Bagaimana bisa? Aku hanya sebuah
pohon! Aku tak bisa bergerak atau berpindah apalagi bermimpi!” jawabku sambil
menangis.
“Lalu? Kenapa tak bisa? Kau bisa
bermimpi! Mimpi berarti kau melakukan sesuatu untuk dirimu dan orang lain.
Mimpi berarti kau menjadi berguna. Lalu kenapa tak bisa? Kau tentu tercipta
tidak untuk menjadi sia-sia. Mungkin mimpimu tak bisa menjadi dokter ataupun
penulis. Mungkin mimpi sebuah pohon tidaklah sama, tetapi kau bisa bermimpi
karena kau bisa bermanfaat untuk dirimu dan orang lain,” ujar Pohon Pinus.
Sambil bercucuran air mata aku
memandang Pohon Pinus. Hatiku terenyuh mendengarnya. Mengapa aku sebodoh ini.
“Mungkin kau tak pernah sadar
seberapa banyak kau telah membantu dan menyelamatkan orang. Kau memberi siswa
maupun orang lain berteduh dikala terik maupun hujan. Kau menjadi objek
berfoto. Kau membantu orang yang putus asa hanya dengan kehadiranmu. Kau bahkan
memberi banyak manusia hidup dengan oksigen yang kau hasilkan. Mungkin menjadi
manusia terlihat sangat hebat dan menakjubkan, tetapi kau juga hebat sebagai
dirimu, Pohon,” ujar Pohon Pinus.
Aku masih terisak dengan penyesalan
atas sikapku yang amat bodoh.
“Aku selalu bersyukur dan bangga
menjadi diriku. Mungkin banyak makhluk yang lebih hebat dariku, tetapi aku
cukup sebagai diriku dengan apa yang aku lakukan. Aku cukup dengan menjadi
sebatang pohon yang berdiri dengan daun dan ranting yang rindang membantu siapa
saja tanpa membedakan siapapun itu. Aku cukup menjadi sebatang pohon yang tak
pernah mengharapkan bantuan atau imbalan apapun. Aku cukup dan bahagia menjadi
sebatang pohon yang tercipta menjadi makhluk yang tulus terhadap siapapun
maupun perbuatan apapun yang mereka lakukan padaku,” sambung Pohon Pinus.
Rintik hujan terus mengguyur
tak henti dan langit mulai meredup. Para siswa dan dosen mulai meninggalkan
gedung satu per satu. Aku diam dengan isi kepala yang terus berputar. Hatiku
tak kunjung mereda atas apa yang Pohon Pinus katakana padaku.
“Pohon Pinus, terima kasih atas
kata-katamu. Tanpamu hatiku akan selalu berat di setiap pagi. Kini aku sadar
bahwa setiap makhluk memiliki porsinya. Mungkin kita, pohon, tak bisa bermimpi
sejauh manusia karena bermimpi sebagai pohon itu sendiri sudah sangat indah,”
ujarku dengan senyuman lirih.
“Ya. Kita, pohon, akan selalu berdiri
tegak tak peduli apapun itu. Kita, pohon, setidaknya tidak pernah meninggalkan
pohon yang lain. Dibanding berlomba menjadi lebih hebat kita lebih memilih
merangkul dan tumbuh bersama,” ujar Pohon Pinus dengan senyum yang lebar.
“Benar. Terima kasih selalu berdiri
di sampingku tak peduli hujan ataupun panas. Terima kasih telah menjadi kawan
yang tumbuh bersama. Aku tidak tahu tanpamu akan seberat apa hatiku,” ucapku
sambil menahan tangis.
Setelah
hari itu, pagiku selalu terasa diberkati dan penuh dengan rasa bahagia. Kini
aku juga memiliki mimpi. Menjadi pohon yang selalu siap merangkul manusia yang
membutuhkan teduhku. Menjadi pohon yang tumbuh dengan tinggi dan menghasilkan
banyak oksigen untuk makhluk lain. Bersama dengan teman sekaligus keluargaku,
Pohon Pinus. Kini aku juga tahu mengapa banyak orang yang ingin menjadiku.
Mereka tahu bahwa kami, pohon, selalu tulus dan tak pernah meninggalkan
siapapun.
Hari itu menyadarkanku bahwa setiap
makhluk memiliki porsi hidupnya masing-masing. Tak perlu bersusah payah menjadi
orang lain ketika menjadi dirimu saja sudah cukup. Tak perlu melihat mimpi
orang lain ketika mimpimu sendiri mampu menopang banyak kebahagiaan.

makasih untuk bacaan ini. keren!
ReplyDeleteTerima kasih sudah membaca. Semoga dapat bermanfaat! ;)
Deletesangat menenangkan dan menginspirasi.
ReplyDeleteTerima kasih banyak sudah membaca dan senang bisa membuat Anda tenang melalui tulisan saya! ;)
Deletesukak sama cerpennya.. ditunggu cerpen berikutnya!!
ReplyDeleteTerima kasih banyak! Saya akan secepatnya mengunggah cerpen berikutnya. Stay tuned! ;)
DeleteMoral values hit the notes๐๐ผ
ReplyDeleteYes I write this with so much value on my hands hahaha thanks for reading! ;)
DeleteAaaaaa sukaaaaaa!!๐❤
ReplyDeleteTerima kasih sudah membaca dan menyukainya! ;) #love
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteNilai moralnya sangat bagus
ReplyDeleteTerima kasih sudah membaca! ;)
DeleteI want the translation, please?
ReplyDeleteI will try my best. Thankyou once again. You are so kind!♡
Delete" Mungkin menjadi manusia terlihat sangat hebat dan menakjubkan, tetapi kau juga hebat sebagai dirimu, Pohon,” ujar Pohon Pinus"
ReplyDeletesuka banget sama kalimat ini. makasih udah nulis cerpen sebagus ini :)
I even more thankful to you for read my writings.
DeleteTerima kasih banyak semoga bermanfaat!♡