![]() |
| West Coast Institute Australia oleh journalistjourn.blogspot.com |
"What did I do to make someone this sunny looking after me,” ungkap Nadya.
Dengan bekal mimpi dan tekad,
keberangkatannya membawa perubahan dalam hidupnya. Tuhan akan selalu memuliakan
pekerjaan dan niat yang mulia.
Luar negeri tidak lagi semata
menjadi destinasi liburan, dengan harapan mendapat kualitas pendidikan yang
lebih baik dan pengalaman baru, banyak orang kini memilih untuk menimba ilmu di
negeri orang.
Menjadi perawat adalah
pekerjaan yang diimpikan Nadya sejak dulu. Berangkat dengan status lulus SMA,
Nadya, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) berhasil menjadi bagian dari West Coast Institute di Australia
sebagai Nursing Student berkat usaha
dan kegigihannya. Nilai IELTS yang memenuhi menjadi salah satu syarat untuk
dapat diterima.
Setiba di sana, bullying dan
kekhawatiran tidak dapat beradaptasi menjadi hal pertama yang ditakuti olehnya
karena perbedaan budaya. Kekhawatiran akan hal-hal tersebut sirna setelah resmi
menjalani kehidupan sebagai mahasiswa selama seminggu. Menurutnya ternyata belajar
di sana tidak sesulit di Indonesia. Pengajar yang sangat disiplin waktu dan tak
pernah datang terlambat menjadi hal positif baginya. Penyampaian materi
pelajaran juga sangat kreatif, mulai dari kerja kelompok, kuis, hingga
presentasi dadakan dari hasil diskusi bersama dengan peralatan seadanya. Hasil
dari pendapat siswa juga sangat dihargai oleh para pengajar. “Tapi kuliah di
sini tidak mudah juga, setiap ada exam
minimal point agar tuntas itu 80%-85%
untuk semester satu,” ujar Nadya.
Setiap semester akan ditutup
dengan ujian yang disebut Clinical
Placement. Semester satu berakhir dan ditutup dengan ditempatkannya di Aged Care dengan sistem volunteer work atau magang. Kali pertama
bekerja di negeri orang ternyata menyenangkan baginya karena banyak orang
berumur yang berbagi cerita kasih dan motivasi. Jika mungkin orang berpikir
menjadi seorang perawat adalah pekerjaan yang elegan dan mudah, itu salah karena
yang diurus adalah semua kebutuhan pasien, seperti memberi makan, mengganti
pakaian, membersihkan kotoran dan sebagainya. Tidak hanya itu, menjadi seorang perawat
harus siap untuk tahan tidak pergi ke toilet karena harus tetap standby terhadap pasien. Waktu istirahat
yang sangat terbatas juga membuat pekerjaan perawat menjadi semakin berat. “Bukan
berarti saya tidak suka menjadi perawat, I
love nursing, it’s like I already have the passion since I was born. Seneng
kalo pasiennya seneng. Seneng kalo pasiennya sembuh,” kata Nadya.
Semester dua menjadi
semester yang paling berat. Ia benar-benar bekerja keras pada semester ini. Mental Health menjadi salah satu mata kuliah
dalam semester dua yang paling disukai oleh Nadya. “Jujur ini unit favorite saya, karena ini membuat
sadar bahwa teman-teman kita atau diri kita sendiri, merasa sedih berkepanjangan,
merasa incomplete, merasa sendiri,
kita tidak boleh menganggap remeh, anggap kalo mereka cuma being overreacting and they are just sad, karena banyak mental illness yang emang harus
ditangani secara serius karna dapat berujung ke self-harm atau lebih parah suicide.
Ini juga membuat sadar bahwa pergi ke psikiater bukan berarti loser tetapi lebih kepada keberanian
untuk berbagi luka dengan orang lain,” ujarnya.
Setelah mulai dapat
beradaptasi dengan lingkungan dan jadwal kuliah, part-time menjadi pilihannya. Menurutnya hidup di Australia
terbilang mahal dan lahan pekerjaan yang sedikit apalagi untuk pendatang dan
umur yang “nanggung” maka mendapat
pekerjaan apapun akan sangat bersyukur. Pada semeseter dua akhirnya ia
memutuskan untuk menjadi babysitter atau
pengasuh bayi dan anak-anak yang gajinya tak seberapa tapi dapat digunakan
untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan.
Semester kedua juga menjadi
titik balik dalam hidupnya. Ia dapat melihat dan memahami sesuatu dari sisi
yang berbeda. Ia menjalankan praktek mental
health pada semester ini yang berlokasi di pedalaman. Untuk sampai ke
lokasi butuh perjuagan karena memakan waktu yang lama dan transportasi yang
sulit. Menyaksikan dua pasien meninggal menjadi pengalaman baru yang menyentuh
hatinya. Pertama adalah ketika ia menjalankan rutinitasnya seperti biasa
sebagai perawat. Pagi itu ia menyapa pasiennya seperti biasa, tetapi tak ada
respon. Ia kemudian memegang kakinya, tetapi tak ada reaksi. Perlahan ia
mencoba memeriksa nadinya dan sang pasien telah pergi. Ini merupakan pengalaman
baru yang cukup membuatnya stres karena merasa gagal dalam menjaga pasiennya. Tak
selesai disitu, pasien kedua menjadi pasien yang ia saksikan penurunan kondisinya
setiap hari hingga akhirnya juga pergi.
Berbekal hasil praktek
sebelumnya yang cukup membuatnya tertekan, Nadya melanjutkan prakteknya ke
tempat selanjutnya ke sebuah rumah sakit. Praktek ini merupakan pengalaman
paling seru bagi Nadya selama praktek yang telah dijalani. Menyuntik pasien
berkali-kali, membuka jahitan, melepas infus, dan memberikan oksigen kepada
pasien pertama kalinya menjadi pengalaman baru yang sangat menakjubkan
untukknya. Rapat bersama para dokter dan melihat kerja Psikoterapi juga menjadi
pengalam yang tak terlupakan untuknya.
Ada dua pasien yang
dipercaya untuk ditangani sepenuhnya oleh Nadya. Selama merawat pasien-pasien
tersebut, ada dua pasien tua lainnya yang sangat menyukai Nadya. Setiap ia
datang untuk merawat, kedua pasien tua itu akan berkata “OMG, yes! It is our lucky day.” Mendengar itu membuat hati Nadya
terenyuh, membuat semua lelah yang dirasakan hilang begitu saja “What did I do to make someone this sunny
looking after me,” ungkap Nadya.
Pada hari terakhir praktek
ia merawat pasien yang menderita Skizofrenia. Skizofernia adalah penyakit
mental yang menyebabkan pengidapnya mengalami halusinasi atau delusi yang akan
mengubah emosi dan perilakunya. Malam itu menjadi malam yang kacau untuknya. Ia
mendapat makian, perlakuan fisik, hingga tuduhan tidak pernah memberinya makan
dan minum, sedangkan ia harus tetap merawatnya dan tidak boleh membiarkan sang
pasien untuk meninggalkan tempat tidurnya, ia menahan pasiennya yang terus
memberontak dengan seluruh tubuh dan tenaganya. Tak kuasa menahan sang pasien
yang terus bersi keras untuk bangun, akhirnya ia meminta perawat lain membantunya
dan meminta dokter untuk memberikan obat penenang. Setelah tenang, sang pasien
berubah secara drastis mulai dari ekspresi wajah, mata, dan caranya
berkomunikasi. Melihat pasiennya berubah ia merasa bersedih dan tak pantas
menjadi perawat karena ketakutan tak dapat keluar dari ruang pasien dengan
senyuman.
Tidak sekedar pekerjaan yang
baru baginya. Lingkungan sosial yang berbeda juga menjadi hal yang baru
lainnya.
Tak hanya cara belajar yang
dianggap lebih baik, pergaulan di sana juga lebih nyaman bagi Nadya karena
menurutnya di sana orang lebih saling menghargai. Mereka tidak memandang
pakaian apa yang dikenakan, mereka lebih memandang bagaimana kepribadian
seseorang, “It’s not about the clothes
you are wearing, it’s about what’s inside your mind you are having,” kata
Nadya. Pergaulan yang menyangkut bullying, kepercayaan, rasisme, seksualisme,
dan ejekan secara fisik di sini juga jauh lebih ketat menurutnya. Jarang
ditemukan orang-orang yang bergurau dengan hal-hal seperti itu. Orang-orangnya
juga dianggap lebih dewasa dan mandiri karena di umur 18 tahun banyak yang
sudah tinggal sendiri, dengan biaya sendiri, benar-benar lepas dari orang tua
karena menganggap sudah mampu terhadap dirinya sendiri tanpa harus lagi
membebani orang tua.
Terbang jauh dari tanah air
memberikannya setetes demi setetes makna dari kehidupan dan mimpinya. Tumbuh di
tanah orang membuatnya banyak menemukan hal baru yang berharga.
Feature ini berhasil dimuat di koran AMUNISI Edisi 339 - 29 Mei 2017

Nadya should be an amazing women!
ReplyDeleteYes she absolutely is! Thanks for read my writings! ;)
Delete