![]() |
| sumber : google.com |
If we lose, I will destroy the world," kata Kim Jong-il, The Dear Leader.
Saudara yang terbelah dengan garis demarkasi 38 derajat lintang utara. Darah yang dibatasi semenanjung Korea. Bersanding tapi tak saling rangkul.
Lahir
dalam sejarah yang sama tetapi paham yang berbeda membuat Korea terbelah menjadi dua. Korea Selatan dengan paham liberalisme dan Korea Utara dengan paham komunisnya. Berawal dari Amerika
Serikat dan Uni
Soviet yang bersatu membentuk
Komisi Bersama (KB), mereka berniat meredam konflik antara sayap kiri dan sayap
kanan. Tanpa melibatkan pihak
Korea mereka memutuskan kemerdekaan
Korea akan dilaksanakan setelah lima tahun di bawah perwaliannya. Namun rakyat
Korea terus melakukan protes hingga pemberontakan karena menginginkan revolusi
setelah tiga puluh lima tahun diduduki Jepang.
Setelah melakukan berbagai perundingan, diyakini Amerika
dan Soviet tidak sepenuhnya menginginkan Korea bersatu dengan kepentingan
mereka masing-masing. Soviet mulai menyebarkan paham komunisnya kepada Korea
dengan memberikan status kewarganegaraan kepada imigran Korea di Siberia.
Amerika yang saat itu dibawah kepemimpinan presiden baru Harry S. Truman, yang
merupakan wakil Franklin Delano Roosevelt yang telah wafat, ternyata sangat
anti dengan komunis. Ia sangat menentang dan tidak ingin Korea jatuh pada paham
komunis. Kaum nasionalis Korea yang dipimpin oleh Syngman Rhee, yang juga
merupakan anti-komunis, mendapat dukungan dari Partai Demokratik Korea untuk membangun
pemerintahan terpisah di Selatan.
Pada September 1947, Majelis Umum PBB akhirnya mengambil
alih permasalahan Korea yang tak terselesaikan dengan membentuk Komisi
Sementara PBB. Di bawah pengawasan PBB Korea melakukan pemilu secara terpisah
karena Soviet dan Korea bagian Utara yang tidak setuju untuk melakukan pemilu
bersama. Korea bagian Selatan melakukan pemilu pada 10 Mei 1948 dan Korea
bagian Utara pada 15 Agustus 1948. Dengan terpilihnya Syngman Rhee dan Kim
Il-Sung sebagai presiden pertama Korea Selatan dan Korea Utara maka Korea resmi
berpisah dan terbelah menjadi dua.
Resmi berpisah tak menjadikan keduanya hidup rukun dengan
ideologinya masing-masing. Kedua Korea, Selatan dan Utara, terus mencari cara
untuk mempersatukan semenanjung Korea. Agresi militer dipilih sebagai jalan
satu-satunya untuk bersatu. Tanggal 25 Juni 1950, perbatasan memanas dengan
masuknya Pasukan Rakyat Korea, pasukan milik Korea Utara, yang melangkahi garis
demarkasi 38 derajat. Serangan yang dilakukan secara dadakan oleh Utara berhasil
melemahkan Selatan yang belum siap. Seoul, Ibu Kota Korea Selatan, berhasil diduduki.
Melihat hal ini Amerika, negara pendukung Korea Selatan, tidak tinggal diam.
Enggan untuk membayangkan komunis yang melebarkan sayapnya, bersama dengan PBB,
Amerika siap menggempur balik Korea Utara secara besa-besaran melalui darat,
udara, dan laut.
Bulan Agustus, di Kota Pusan, Pasukan Rakyat Korea milik
Utara berhasil menggencat pasukan koalisi hingga memakan banyak korban sipil
dari kalangan akademisi dan intelektual Korea Selatan. Jendral MacArthur,
pemimpin pasukan koalisi, meminta pemimpin Korea Utara, Kim Il-Sung, untuk
bertanggung jawab. Tidak tinggal diam, Jendral MacArthur mengubah strategi
dengan melakukan jebakan terhadap pasukan Utara. Ia menghambat pasokan logistik
pasukan Utara dengan menghancurkan jembatan-jembatan dan pelabuhan yang menjadi
jalur distribusi logistik pasukan Korea Utara. Di saat pasukan milik Utara
terus melemah, Amerika terus mengirim pasukan dan peralatan tambahan. Awal September
1950, pasukan koalisi melakukan serangan balik. Jendral MacArthur memerintahkan
Mayor Jendral Hobart Gay, Komandan Divisi Kavaleri pertama dari Yokohama untuk
menempatkan amfibi di kota Incheon yang berada di belakang garis pertahanan
Korea Utara. Bom pun dijatuhkan dan berhasil menghancurkan pertahanan pasukan
milik Utara.
Kemenangan pasukan koalisi membuat niat awal untuk
membantu Korea Selatan mengusir Korea Utara ini melebar menjadi invasi ke Korea
Utara. Pasukan koalisi melangkahi balik garis demarkasi 38 derajat. Sama halnya
dengan Amerika, Cina juga tidak tinggal diam mendengar kabar ini. Cina yang
juga salah satu pendukung Korea Utara karena memiliki kesamaan ideologi ini
mengirimkan ratusan ribu pasukannya untuk membantu Korea Utara. Tidak hanya
Cina, Soviet yang menjadi pendukung utama Utara turut membantu dengan
mengirimkan bantuan peralatan tempur. Dalam pertempuran ini pasukan koalisi
kalah dan harus meninggalkan Pyongyang pada Desember di tahun yang sama.
Ideologi Juche
Kim Il-Sung sang pendiri
Dinasti Kim, presiden pertama dan presiden abadi Korea Utara ini pada 1955 melahirkan
ideologi Juche yang resmi dianut oleh Korea Utara. Pengertian dari Juche adalah
percaya pada diri sendiri dan memiliki prinsip bahwa manusia menguasai segala
sesuatu dan memutuskan segala sesuatu. Setelah wafatnya Stalin pada tahun 1953,
negara penganut paham komunisme mendebatkan penerapan dari komunisme. Di antara
perdebatan ini Korea Utara memilih untuk tidak memihak manapun dan berhasil
melahirkan Juche. Kim juga mulai membangun hubungan baik dengan negara-negara
penganut komunis di Eropa Timur seperti Jerman Timur dan Rumania.
Rumania menyatakan
ketertarikannya dengan ideologi Juche dan terinspirasi akan penghormatan yang
didapat Kim di negara kekuasaannya. Nicolae Ceausescu’s, pemimpin Rumania saat
itu mencoba menerapkan sistem Korea Utara di negaranya. Buku-buku mengenai
Juche diterjemahkan ke dalam bahasa Rumania dan disebarluaskan.
Tidak hanya Rumania, pada
tahun 1964 Presiden pertama Indonesia, Soekarno melakukan kunjungan ke Korea
Utara dan mencontoh sisi positif dari ideologi Juche untuk diterapkan di
Indonesia.
Konfrontasi Kedua Saudara
Pemimpin kedua Korea Utara, Kim Jong-Il, The Dear Leader dikatakan menyukai
konfrontasi. Ahli intelejen menuduh Kim Jong-il memerintahkan pengeboman di
Myanmar pada 1983 yang berhasil menewaskan pejabat senior Korea Selatan. Pengeboman
ini juga hampir menewaskan Presiden Korea Selatan.
Tidak berhenti pada upaya pengeboman, ia juga diduga
menjadi dalang di balik hancurnya pesawat Korean Air pada tahun 1987 yang
menewaskan lebih dari seratus orang.
Perselisihan saudara yang terpisah kembali memanas pada
2010. Korea Utara diduga menembakkan torpedo ke kapal milik Korea Selatan di
dekat Pulau Baengyeong di Laut Kuning yang menewaskan 46 pelaut. Korea Utara
juga terus menembakkan senjata arteleri ke arah Pulau Yeonpyeong milik Korea
Selatan selama tiga hari berturut-turut pada Januari 2010.
Saling serang di Pulau Yeonpyeong tidak hanya terjadi
sekali. Sebelumnya pada 15 Juni 1999, kapal Angkatan Laut Korea Utara dan Korea
Selatan saling serang yang menyebabkan kapal torpedo milik Korea Utara
tenggelam dan tiga kapal patrolinya rusak parah. Diperkirakan 50 orang dari
pihak Korea Utara menjadi korban dalam peristiwa ini. Pada 29 Juni 2002 juga
terjadi lagi saling serang di Yeonpyeong. Ini adalah kali kedua pertempuran di
Pulau Yeonpyeong. Dalam peristiwa ini kapal patroli Korea Selatan tenggelam dan
enam pasukannya meninggal.
Puncaknya terjadi pada 13 Maret 2013 ketika Korea Utara
menyatakan secara resmi pembatalan perjanjian gencatan senjata pada tahun 1953
dan mengancam akan melakukan aksi militer tanpa ampun kepada musuh-musuhnya.
Nuklir Dalam Genggaman Sang Diktator
“If we lose, I will destroy the world,” kata Kim Jong-il, The Dear Leader.
Diketahui Korea Utara
melakukan pengembangan nuklirnya sejak tahun 1986. Setelah tujuh tahun menyusun
persiapan, dibantu oleh Soviet, Korea Utara memulai pengoperasian reaktor
nuklir sebesar lima megawatt di Yongbyon. Korut pernah melakukan perjanjian
dengan Amerika untuk menghentikan pengembangan nuklirnya pada tahun 1994. Namun
pada 2002 Amerika mencurigai Korut melakukan pengembangan nuklirnya kembali.
Dengan dalih memenuhi kebutuhan energi dan menjaga
keamanan nasional, program nuklir milik Korut terus berlanjut. Rezim Kim
menganggap senjata nuklir memiliki nilai jual tinggi dalam negosiasi dengan
Amerika untuk memperbaiki hubungan dan keuntungan dari sisi ekonomi yang dapat
diambil. Oleh karena itu, program nuklir menjadi agenda utama nasional bagi
Korea Utara. Yongbyeon yang menjadi pusat perhatian dunia, merupakan pusat
pengembangan nuklir milik Utara.
Uji coba nuklir pertama dilakukan pada Juli 2006 di
terowongan gunung sekitar pantai timur wilayahnya dan menghasilkan gempa kecil.
Uji coba ini mendapat kecaman dunia karena dianggap mengancam keamanan global
dan bersifat provokatif. Cina dan Rusia yang merupakan negara pendukung Korea
Utara mulai meninggalkannya dan menyepakati pembahasan isu ini dalam rapat DK
(Dewan Keamanan) PBB.
Uji coba kedua dilakukan pada tahun 2009 yang dilakukan
di bawah tanah dengan kedalaman 300 meter. Uji coba ini menimbulkan ledakan
dahsyat dan gempa ringan di sekitar tempat dilakukannya uji oba tersebut.
Tanpa menghiraukan kecaman internasional, Pyongyang
kembali melakukan uji coba ketiganya tepat pada 12 Februari 2013 yang menjadi
uji coba terbesar selama sejarah pengembangan muklir miliknya. Uji coba ini
diumumkan melalui situs uji coba nuklir milik Korea Utara. Pyongyang mengatakan
uji coba ini dilakukan dengan aman dan sempurna. Uji coba ketiga ini
menyebabkan gempa berkekuatan 4,9 skala Richter dan terdeteksi oleh US Geological Survey. Uji coba ini
diduga merupakan reaksi Pyongyang terhadap latihan militer bersama antara
Amerika dan Korea Selatan.
Citra satelit menunjukkan pada akhir 2015 Korut melakukan
penggalian terowongan baru di lokasi utama uji coba nuklir. Rezim Kim
mengatakan negaranya telah mengembangkan bom hidrogen tetapi Amerika meragukannya.
September 2016, dunia kembali dikagetkan dengan dugaan
uji coba nuklir kelima yang dilakukan kembali oleh Rezim Kim.
Rudal Balistik
Nuklir tidak menjadi satu-satunya senjata yang
dikembangan oleh Korea Utara. Rudal menjadi salah satu senjata yang juga
dikembangkan oleh Korut. Korut mendapat rudal pertama dari Soviet pada tahun
1969 yaitu rudal FROG dan untuk kedua kalinya mendapatkan rudal SCUD-B yang
juga hasil pemberian Soviet atas imbalan dukungannya terhadap Mesir saat Perang
Timur Tengah. Korea Utara diperkirakan memulai pengembangan senjata rudalnya
sejak tahun 1976 dengan cara membongkar dan mempelajari rudal hasil pemberian
Soviet. Pengembangan ini berhasil menciptakan rudal buatan Korea Utara yaitu
rudal jarak pendek, sedang (Nodong), dan jauh (Taepodong) pada tahun 1988.
Hasil dari pengembangan yang dilakukan terus-menerus
Korut berhasil menciptakan rudal balistik jarak jauh yaitu rudal Taepodong 2 dengan
jangkauan antarbenua yang memiliki kemampuan jarak 6.000 hingga 15.000 kilometer.
Rudal jenis ini juga siap dipasang dengan hulu ledak nuklir.
Saudara yang kini terpisah oleh ideologi, terbatas dengan
garis, dapat meledak tak terduga. Dengan perdamaian yang semu, keduanya
terus-menerus memperkuat pertahanan militernya. Rezim Kim dengan dinasti
diktatornya berhasil menggenggam nuklir dan hulu ledak. Sedangkan Selatan siap
dengan sekutunya. Apabila perang kedua saudara ini terjadi, hampir dipastikan
perang nuklir tak dapat ditolak dan ancaman Sang Diktator untuk menghancurkan dunia
apabila rezimnya kalah pun dapat terwujud.

apa sanksi PBB ga cukup kuat buat berentiin korut?
ReplyDeletemenurut saya bukannya tidak kuat, tetapi Korut yang tak acuh dengan sanksi PBB dan semua kan butuh pertimbangan untuk langkah yang diambil jadi mungkin PBB juga tidak bisa secara agresif memperlakukan Korut yang jelas memiliki banyak ancaman.
Deletegooddddd
ReplyDeleteTerima kasih sudah membaca! ;)
Deletekorut takuttt��
ReplyDeleteSemoga bisa segera ditangani... terima kasih sudah membaca! ;)
Deletecoba buat tulisan tentang Mussolini dong hehe
ReplyDeleteTerima kasih atas sarannya. Saya akan coba mengumpulkan data tentang Mussolini dan akan mencoba segera menulisnya. Stay tuned dan terima kasih sudah membaca! ;)
Deletetentang Soekarno dan Soeharto jugaaaa
DeleteSaya akan mencoba menulisnya. Terima kasih telah membaca dan memberikan saran! ;)
DeleteI don't get what you write because of the language, but I know the story of The Dear Leader
ReplyDeleteI know right. I'm using Indonesian here because it dedicated to one of my class/subject.
DeleteYeah, his story just so interesting to me haha
Thank you so much for visiting this blog! ;)) #heart