Skip to main content

Gelas yang Pecah

Barcelona Gaudi oleh journalistjourn.blogspot.com


  Ya, aku sadar bahwa menjadi bermanfaat dan berguna lebih baik dan tidak ada gunanya menyombongkan kecantikanku ini, kecantikan selalu dapat hancur tetapi kebermanfaatan selalu abadi. Ya aku menyesal, sungguh aku menyesal,” tangis Si Gelas Cantik.




          


               Suatu hari, di salah satu rumah seorang bangsawan yang tinggal di Barcelona, memiliki sederet koleksi alat makan, terutama gelas, ia sangat menyukai gelas  yang cantik dan indah. Dari semua gelas cantik yang dimilikinya ada satu gelas yang benar-benar menjadi kesukaannya, gelas itu didapat dari arsitek atau seniman terkenal yang berasal dari Spanyol yaitu Antoni Gaudi. Gelas tersebut selalu dibanggakan dan dipajang, terutama ketika ada tamu dari bangsawan lain berkunjung untuk makan malam atau ketika pesta dansa diadakan di rumahnya.

            Gelas-gelas selalu berbincang setiap kali tengah malam tiba, melepas semua lelah dan meceritakan kejadian yang mereka lihat seharian. Si Gelas Cantik selalu menyombongkan dirinya yang selalu dipuji para tamu dan selalu dibanggakan oleh sang pemilik.

“Aku hari ini, seperti biasa, Tuan Andreas dari Italia mengatakan bahwa aku gelas yang sangat amat cantik. Perpaduan warna dalam tubuhku juga sangat indah, bentukku begitu menawan, dan corak ditubuhku begitu menakjubkan. Begitu katanya,” si gelas cantik bergumam bangga.

Setiap kali ia mebanggakan dirinya gelas-gelas lain hanya bisa mendengarkan. Pertama kali si gelas tiba, gelas-gelas yang lain juga selalu memuji karena memang bena-benar cantik. Tetapi lama kelamaan ia malah menjadi sombong.

            Suatu hari, ada seorang tamu yang datang lalu si gelas cantik pun dikeluarkan untuk dipajang di rak dekat sang tamu duduk. Tiba-tiba pelayan yang membawanya tak sengaja terpeleset dan terjatuh. Jatuhlah si gelas cantik, gagangnya terbelah menjadi dua dan bagian tubuhnya retak. Ia menahan tangisnya hingga tengah malam tiba, ia menangis terisak-isak meratapi tubuhnya yang cantik kini rusak.

            Si gelas cantik tak pernah lagi dibanggakan oleh pemiliknya bahkan ia tak pernah lagi dikeluarkan dari rak gelas di dapur. Ia selalu menangis ketika tengah malam tiba, meraung-raung menyalahkan pelayan yang membawanya waktu itu.  Suatu malam, ketika gelas lain tertidur dan Si Gelas Cantik masih menangis tiba-tiba saja sebuah gelas tua yang sudah usang berkata “bersyukurlah engkau.”

“Bersyukur untuk apa?! Apa yang bisa kusyukuri?!” tangis Si Gelas Cantik.

“lihatlah ke pojok rak sebelah” perintah Si Gelas Tua.

Si Gelas Cantik menurutinya dan menoleh ke sudut rak sebelah. Ada sebuah pecahan-pecahan porselen yang berdebu dan usang.

“Dia beberapa tahun yang lalu adalah gelas kesayangan Tuan, sama sepertimu, dia begitu cantik dan anggun. Tuan selalu memamerkannya di depan para tamu. Sampai akhirnya ia pecah berkeping-keping,” jelas Si Gelas Tua.

Si Gelas Cantik menatapnya terus sambil menangis bisu.

“Kau masih beruntung tidak pecah berkeping-keping, maka bersyukurlah,” tegas Si Gelas Tua.

“Ya aku sadar bahwa menjadi bermanfaat dan berguna lebih baik dan tidak ada gunanya menyombongkan kecantikanku ini, kecantikan selalu dapat hancur tetapi kebermanfaatan selalu abadi. Ya aku menyesal, sungguh aku menyesal,” tangis Si Gelas Cantik.

“Penyesalan selalu datang terakhir tetapi tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik,” senyum Si Gelas Tua.

            Semenjak malam itu Si Gelas Cantik bersikap lenih baik. Ia selalu mendengarkan keluh kesah dari gelas-gelas lain dan menghibur mereka.





Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Genosida : Diambang Pemusnahan Etnis Rohingya

sumber : http://www.independent.co.uk Berbaris menapakkan kaki di bumi yang dingin. Berjalan memikul penolakan. Eksodus dengan membariskan harapan untuk kehidupan yang lebih layak. Warga Rohingya melakukan perjalanan menuju Bangladesh untuk menghindari konflik yang terjadi di Rakhine, Myanmar. Penyiksaan yang terjadi secara bertubi-tubi mulai dari kekerasan fisik, pemerkosaan hingga pembakaran desa yang dilakukan oleh militan Myanmar membuat etnis minoritas ini tak punya pilihan selain pergi ke tempat yang lebih aman. Penyerangan pos polisi oleh gerilyawan Rohingya dengan menggunakan pisau dan bom merupakan awal mula dari pecahnya kembali konflik etnis Rohingya dan Myanmar yang tak pernah berhenti. Pihak Myanmar meyakini bahwa gerilyawan yang menyerang pos polisi itu merupakan Tentara Penyelamat Rohingya Arakan ( Arakan Rohingya Salvation Army, ARSA). Memuncaknya kembali konflik Rohingya dengan militan Myanmar ini kemudian menjadi sorotan PBB dan banyak negara lainnya. ...

Mimpi Sebuah Pohon

Taman Bunga Bogor oleh journalistjourn.blogspot.com Mungkin banyak makhluk yang lebih hebat dariku, tetapi aku cukup sebagai diriku dengan apa yang aku lakukan.                                                                                                                                                                                                     Beberapa kali aku mendengar orang ingin menjadi sepertiku. Katanya aku selalu di tempat. Katanya aku setia. Katanya juga aku tak pernah ber...

The First Storm

oleh journalistjourn.blogspot.com The beginning is always feel so good yet scary. You get excited while risking your old one.                                                                 It was the darkest noon ever.  Sitting on the station while counting the train.  Feels so cold yet sweaty on the white shirt and pink bag.  Feels so wronged with myself and couldn't find any way to turn back time.  I close my eyes and start making a thousand promises, "I will find a way, no matter what," I said.  I open my eyes and start steping into the train.  I said the same thing over and over on my head and that's my first-turning poi...